Suatu siang, seorang sahabat meminta tolong kepada saya untuk membelikan ia sebotol Aqua (minuman kemasan botol). Sesaatnya sampai dikantin, saya tidak menemukan minuman yang dimaksud. Akhirnya saya putuskan untuk memilih merk lain selain Aqua. Anehnya, ketika saya meminta maaf karena tidak memenuhi keinginannya untuk membelikan Aqua, ia malah mengucapkan terima kasih. Makin bingung saya dibuatnya.

Itulah sedikit pengalaman saya tentang kuatnya sebuah merk tertanam dalam kehidupan sehari-hari. Di kemudian, saya baru memahami bahwa yang diinginkan sahabat saya bukan Aqua (merk minuman kemasan) tapi air minum kemasan botol. Ia tidak mempermasalahkan merk minuman kemasannya, tapi yang ia butuhkan saat itu adalah air minum yang dapat menghilangkan dahaganya. namun mengapa ia harus menyebut Aqua? Bukankah ada merk-merk yang lain.

Seorang penyair pernah berkata, “apalah arti sebuah nama”. Nama cuma sebagai pembeda identitas antara yang satu dengan yang lainnya. Ungkapan ini tidak belaku dalam dunia bisnis. Di dunia pemasaran, nama dapat diibaratkan sebagai strata sosial. Nama produk (merk) dapat menunjukan strata  sosial bagi yang menggunakannya. Itulah mengapa perusahaan rela menggelontorkan uang yang sebanyak-banyaknya melalui biaya iklan dan promosi hanya untuk mencapai tujuan untuk menginjeksi merek dagangnya ke dalam kepala setiap pelanggannya. Sebagian pelanggan memang tak terpengaruh, namun kebanyakan dari mereka menjadi tergila-gila terhadap sebuah merek. Merek tak ubah layaknya doktrin. Pelanggan yang loyal adalah pelanggan yang telah terdoktrin oleh merk produk sehingga tidak akan menggunakan produk-produk yang lainnya.

Merek (brand) telah menjadi elemen krusial yang berkontribusi terhadap kesuksesan sebuah organisasi pemasaran, baik perusahaan bisnis maupun nirlaba, pemanufaktur maupun penyedia jasa, dan organisasi lokal maupun global. Riset brand selama ini masih didominasi sektor consumer markets, terutama dalam kaitannya dengan produk fisik seperti barang. Namun demikian literature merek mulai berkembang pula untuk sektor pemasaran jasa, pemasaran bisnis dan pemasaran online. Bidang kajiannyapun sangat beragam, mulai dari sejarah manajemen merek, brand origin, brand pioneership dan brand name strategy hingga brand equity, brand extension, brand loyalty, dan global branding.