Menurut PSAK No. 22 tentang Penggabungan Usaha, “Penggabungan usaha adalah penyatuan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan (uniting with) perusahaan lain atau memperoleh kendali (control) atas aktiva dan operasi perusahan lain”

Usaha-usaha yang sebelumnya terpisah, bersama-sama membentuk satu entitas karena sumber daya dan operasi berada di bawah pengendalian kelompok manajemen tunggal. Pengendalian (controlling) terbentuk dalam penggabungan penggabungan usaha, dimana:

  1. Satu atau lebih perusahaan menjadi perusahaan anak
  2. Satu perusahaan mengalihkan (transfer) aktiva bersihnya kepada perusahaan lain
  3. Setiap perusahaan mengalihkan aktiva bersihnya kepada perusahaan baru yang dibentuk.

Suatu perusahaan menjadi anak perusahaan saat sahamnya dimiliki peusahaan lain lebih dari 50% atau memperoleh hak mayoritas (controlling interest), walau demikian perusahaan anak tetap  memiliki entitas usaha sendiri.

Metode akuntansi yang digunakan dalam penggabungan usaha ada dua, yaitu metode penyatuan kepentingan (pooling of interest method) dan metode pembelian (purchase method). Menurut PSAK No.12, penggunaan metode tersebut bukanlah pilihan bagi perusahaan. Penggunaan metode tersebut harus sesuai dengan maksud penggabungan usaha, apakah penyatuan kepentingan dan jika syarat-syarat penyatuan kepentingan tidak terpenuhi, maka harus menggunakan metode pembelian.

Menurut Beams, penetapan dengan metode equity sebagai berikut:

  1. Kepemilikan perusahaan-perusahaan yang bergabung adalah satu kesatuan dan secara relative tetap tidak berubah pada entitas akuntansi yang baru, karena tidak ada pembelian perusahaan-perusahaan yang bergabung dan tidak ada harga pembelian.
  2.  Aktiva dan kewajiban dari perusahaan-perusahaan yang bergabung dimasukan dalam entitas gabungan sebesar nilai bukunya (book value), karena setiap goodwill yang timbul pada buku masing-masing perusahaan yang bergabung akan dimasukan sebagai aktiva pada buku entitas yang masih beroperasi. Termasuk laba ditahan dan pendapatan masing-masing perusahaan yang bergabung juga dimasukan dalam entitas yang disatukan.
  3. Jumlah yang dicatat harus menggunakan metode yang sama, sehingga jika metode yang digunakan perusahaan-perusahaan yeng bergabung berbeda, maka harus direkonsiliasi dan berlaku surut. Jadi data-data sebelumnya harus disajikan kembali.

Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka penggabungan usaha harus dicatat denganmenggunakan metode pembelian, yaitu dengan mengasumsikan bahwa penggabungan usaha adalah suatu transaksi, dimana suatu entitas memperoleh aktiva bersih dari perusahaan-perusahaan lain yang bergabung. Dengan demikian, perusahaan yang membeli/ memperoleh, mencatat aktiva yang diterima dan kewajiban ditanggung sebesar nilai wajar (fair value). Setiap kelebihan harga perolehan atas nilai wajar aktiva bersih diakui sebagai goodwill.