Hipotesis Positive Accounting Theory, menggunakan sudut pandang oportunistik. Pandangan ini mengasumsikan bahwa manajer memilih kebijakan akuntansi untuk maksimisasi utilitas ekspektasian (expected utility) mereka relatif terhadap renumerasi yang mereka terima (bonus plan hypothesis), kontrak hutang (debt covenant hypothesis) dan kos politik (political cost).

Hipotesis tersebut juga bisa dinyatakan dalam bentuk efisien. Dalam sudut pandang ini berasumsi bahwa kontrak kompensasi dan sistem pengendalian interanl, termasuk monitoring oleh dewan komisaris, membatasi oportunistik manajer dan memotivasi manajer untuk memilih kebijakan akuntansi yang meminimisasi kos modal perusahaan dan biaya kontrak (contracting cost).

Seringkali dua bentuk dari PAT memiliki prediksi yang serupa. Misalnya dalam bonus plan hypothesis, manajer bisa jadi akan memilih amortisasi garis lurus daripada, katakanlah saldo menurun. Dampak dari pilihan ini adalah meningkatnya angka laba yang pada gilirannya akan meningkatkan angka renumerasi bagi manajer. Dari sudut pandang ini, maka manajer dianggap oportunistik. Namun kebijakan yang sama bisa jadi dipilih dalam bonus plan hypothesis tetapi pada sudut pandang alasan efisiensi. Misalkan amortisasi garis lurus merupakan ukuran terbaik dari opportunity cost perusahaan dalam penggunaan aset tetapnya. Sehingga amortisasi haris lurus menghasilkan laba yang dilaporkan mengukur kinerja perusahaan dengan lebih baik. Hasilnya kebijakan ini bisa jadi secara efisien lebih memotivasi manajer (dengan tujuan pertama adalah bonus) relatif terhadap kebijakan amortisasi yang lain.

Contoh lain, juga bisa terjadi pada debt covenant hypothesis. Sweeney (1994) menggarisbawahi bahwa apabila perusahaan dalam bahaya melanggar kontrak perjanjian hutangnya, maka akan menurunkan sediaan perusahaan dengan menggunakan LIFO. Pilihan kebijakan ini berdampak pada kenaikan laba perusahaan, dan akan dipandang sebagai hal yang oportunistik. Alternatif lain, bisa ditinjau dari sudut pandang efisien. Pilihan kebijakan untuk menerapkan LIFO ketika perusahaan menghadapi kemungkinan pelanggaran kontrak hutang timbul dari kondisi perekonomian, misalnya penurunan aktivitas bisnis, maka reduksi sediaan bisa menjadi strategi bisnis yang efisien untuk mengingkatkan arus kas, khususnya apabila perusahaan berada dalam posisi tax loss.

Dari penjelasan pilihan manajemen akan kebijakan akuntansi, maka akan sulit untuk mengatakan apakah observasi atas kebijakan akuntansi yang dipilih perusahaan dikendalikan oleh oportunistik atau efisiensi. Dalam hal ini tanpa mampu untuk membedakan kemungkinan ini, maka akan sulit untuk mengatakan bahwa kita memahami proses dari pilihan kebijakan akuntansi.

Permasalahan serius yang dihadapi praktisi, akademisi akuntansi dan keuangan selama beberapa dekade terakhir ini adalah manajemen laba. Alasannya, pertama, manajemen laba seolah-olah telah menjadi budaya perusahaan (corporate culture) yang dipraktikkan semua perusahaan di dunia. Sebab aktivitas ini tidak hanya di negara-negara dengan sistem bisnis yang belum tertata, namun juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di negara yang sistem bisnisnya telah tertata, seperti halnya Amerika Serikat.

Kedua, sebab dan akibat yang ditimbulkan aktivitas rekayasa manajerial ini tidak hanya menghancurkan tatanan ekonomi, namun juga tatanan etika dan moral. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika publik mempertanyakan etika, moral, dan tanggung jawab pelaku bisnis yang seharusnya menciptakan kehidupan bisnis yang bersih dan sehat. Bahkan, di beberapa negara, publik juga mempertanyakan dan meragukan integritas dan kredibilitas para akuntan yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam mendeteksi manajemen laba dan regulator yang seharusnya mempersiapkan regulasi yang memadai untuk menciptakan kehidupan bisnis yang bersih dan sehat.

Ini sebabnya mengapa publik meragukan informasi-informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Informasi yang seharusnya menjadi sumber utama untuk mengetahui kondisi perusahaan yang sesungguhnya kehilangan makna dan fungsi karena penyimpangan ini. Laporan keuangan tidak lagi mampu menjalankan fungsinya untuk menginformasikan apa yang sesungguhnya telah dilakukan dan dialami perusahaan selama satu periode.

Selain itu, publik juga meragukan orang yang menyusun dan memeriksa laporan keuangan, mempertanyakan dan meragukan kelayakan standar akuntansi dan pemeriksaan yang selama ini dipakai secara luas oleh dunia usaha. Apalagi jika mengingat manajemen laba tidak hanya mempengaruhi perekonomian nasional namun juga perekonomian internasional.

Secara makro, manajemen laba telah membuat dunia usaha seolah berubah menjadi sarang pelaku korupsi, kolusi, dan berbagai penyelewengan lain yang merugikan publik. Publik menganggap apa yang diinformasikan dunia usaha hanya merupakan akal-akalan pelakunya untuk memaksimalkan keuntungan pribadi dan kelompok tertentu, tanpa memperhatikan kepentingan pihak lain. Tidak aneh jika pada akhir dasawarsa 1980-an kasus creative accounting ini menyebabkan good corporate governance menjadi perhatian publik di Inggris.
Demikian juga dengan kasus-kasus kecurangan korporasi di Indonesia yang terbukti menjadi salah satu penyebab runtuhnya perekonomian negara ini atau skandal keuangan Enron, WoIrdcom, dan Xerox yang menyebabkan publik Amerika Serikat meragukan integritas dan kredibilitas para pelaku dunia usaha. Skandal ini bahkan tidak hanya membuat perusahaan yang melakukannya mengalami kebangkrutan namun juga mengakibatkan para pelakunya diseret ke pengadilan sebagai pelaku kejahatan ekonomi.

Namun upaya yang dilakukan KAP Arthur Andersson&Co di Amerika Serikat untuk melegalisasi atau menyembunyikan penyelewengan yang dilakukan kliennya ternyata tidak hanya meruntuhkan KAP Arthur Andersson&Co di negara itu tetapi juga seluruh afiliasinya di seluruh dunia. Lebih menarik lagi, KAP ini runtuh tanpa harus melewati proses pengadilan, namun hanya karena dijauhi oleh klien dan publik yang menganggapnya sebagai pesakitan. Skandal keuangan yang melibatkan KAP ini berdampak secara luas terhadap bisnis internasional.