Menurut Scoot (2000), pola manajemen laba dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1.      Taking a Bath.

Taking a bath adalah pola manajemen laba yang dilakukan dengan cara menjadikan laba perusahaan pada periode berjalan menjadi sangat ekstrim rendah (bahkan rugi) atau sangat ekstrim tinggi dibandingkan dengan laba pada periode sebelumnya  atau  sesudahnya.  Taking  a  bath  terjadi  selama  periode  adanya tekanan organisasi atau pada saat terjadinya reorganisasi, seperti pergantian CEO baru.

Teknik taking a bath mengakui adanya biaya-biaya pada periode yang akan datang dan kerugian pada periode berjalan ketika terjadi keadaan buruk yang  tidak  menguntungkan  dan  tidak  bisa  dihindari  pada  periode  berjalan. Konsekuensinya,  manajemen  menghapus  beberapa  aktiva,  membebankan perkiraan-perkiraan biaya mendatang. Akibatnya laba pada periode berikutnya akan lebih tinggi dari seharusnya.

2.      Income Minimization.

Income minimization adalah pola manajemen laba yang dilakukan dengan cara  menjadikan  laba  pada  laporan  keuangan  periode  berjalan  lebih  rendah daripada laba sesungguhnya.  Income minimization biasanya dilakukan pada saat profitabilitas  perusahaan  sangat  tinggi  dengan  maksud  agar  tidak  mendapat perhatian secara politis. Kebijakan yang diambil dapat berupa penghapusan atas barang  modal  dan  aktiva  tak  berwujud,  pembebanan  pengeluaran  iklan, pengeluaran R&D, dan lain-lain.

Cara ini mirip dengan taking a bath tetapi lebih halus. Cara ini dilakukan pada saat profitabilitas perusahaan sangat tinggi, sehingga jika periode yang akan datang diperkirakan laba turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba periode sebelumnya.

3.      Income Maximization.

Maksimisasi  laba (income  maximization) adalah  pola manajemen  laba yang dilakukan dengan cara menjadikan laba pada laporan keuangan periode berjalan lebih tinggi daripada laba sesungguhnya. Income  maximization dilakukan  dengan  tujuan  untuk  memperoleh  bonus  yang  lebih besar, meningkatkan keuntungan, dan untuk menghindari dari pelanggaran atas kontrak hutang  jangka  panjang.  Income  maximization  dilakukan dengan cara mempercepat pencatatan pendapatan, menunda biaya dan memindahkan biaya untuk periode lain. Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang besar. Pola ini dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelaggaran perjanjian hutang.

4.      Income Smoothing.

Income  smoothing  atau  perataan  laba  merupakan  salah  satu  bentuk manajemen  laba  yang dilakukan  dengan  cara membuat  laba akuntansi relatif  konsisten  (rata  atau  smooth)  dari  periode  ke  periode.  Dalam  hal  ini  pihak  manajemen  dengan  sengaja  menurunkan  atau  meningkatkan  laba  untuk  mengurangi gejolak dalam pelaporan laba, sehingga perusahaan terlihat stabil atau tidak berisiko tinggi.  Sebagai contoh, ketika penghasilan saat sekarang relatif rendah, tetapi penghasilan di masa mendatang diperkirakan relatif tinggi, maka pihak manajer  akan  melakukan  pemilihan  metode  akuntansi  yang  dapat  meningkatkan discretionary  accruals  pada  saat  sekarang.  Dampaknya, manajer  dalam lingkungan  pekerjaan  seperti  ini akan meminjam penghasilannya di masa mendatang. Sedangkan jika pada saat sekarang penghasilan relatif bernilai tinggi, tetapi penghasilan dimasa mendatang diperkirakan relatif rendah, maka pihak manajer akan melakukan pemilihan metode akuntansi yang dapat menurunkan discretionary accruals untuk saat sekarang. Pihak manajer dengan efektif akan menabung penghasilannnya saat sekarang untuk kemungkinan penggunaan di masa mendatang. Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.