Para pengguna laporan keuangan umumnya berusaha untuk mencari informasi tentang keterandalan dari laporan keuangan perusahaan. Cara yang paling banyak dipakai adalah dengan mengharuskan perusahaan untuk melakukan audit yang dilakukan oleh pihak independen agar informasi yang dihasilkan dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.

Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik menyebutkan bahwa dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus selalu mempertahankan sikap mental independen di dalam memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik yang ditetapkan oleh IAI. Sikap mental independen tersebut harus meliputi independen dalam fakta (in fact) maupun dalam penampilan (in appearance) (Amani dan Sulardi, 2005).

Dalam Kode Etik Akuntan Indonesia pasal 6 ayat 1 juga menyebutkan bahwa seorang akuntan publik harus mempertahankan sikap independen. Artinya seorang akuntan publik harus mampu menjaga dirinya agar dari segala kepentingan dengan tidak memihak kepada siapapun. Akuntan publk bekerja berdasarkan kepercayaan yang diberikan oleh klien dan para stakeholder guna memberikan keyakinan tertinggi atas kewajaran laporan keuangan yang dibuat oleh klien. Oleh karena itu, dalam memberikan pendapatnya atas laporan keuangan tersebut, akuntan publik harus mampu menjaga independensi dari kepentingan klien, para stakeholder, maupun dirinya sendiri.

Beberapa tahun belakangan sempat terjadi berbagai macam kasus skandal akuntasi yang melibatkan para auditornya. Ini menunjukan berkurangnya independensi dari para auditor karena terdapat berbagi kepentingan baik dari klien maupun dirinya yang berdampak bagi kalangan bisnis.

Tabel 1.1

10 Skandal Akuntansi Dunia

No. Nama Perusahaan Tuduhan Kasus   Kecurangan
1. Bank of Credit and Commerce International (BCCI) Salah satu skandal terbesar dalam sejarah keuangan   dengan kecurangan $20 miliar lebih. Labih dari $13 miliar dana unaccounted. Tuduhan lainnya termasuk   penyuapan, mendukung terorisme, money   laundry, penyeludupan, penjualan teknologi nuklir, dan lain-lain.
2. Enron Corporation Mendongkrak   laba dan menyembunyikan hutang lebih dari $1 milyar dengan menggunakan   perusahaan di luar pembukuan, memanipulasi pasar listrik di Texas, menyogok   pejabat asing untuk memenangkan kontrak di luar Amerika, memanipulasi pasar   energi di California.
3. WorldCom Cash flow didongkrak US$3,8 milyar dengan   mencatat operating expenses dengan capital expenses.
4. Tyco International Mantan CEO   (Dennis Kozlowski) dan mantan CFO (Mark H. Swartz) dituduh melakukan   pencurian sebesar $600 juta dari perusahaan pada tahun 2002
5. Kanebo Limited Melambungkan keuntungan sebesar $2 miliar untuk periode   5 tahun.
6. Waste Management, Inc Laba yang meningkat $17 miliar dengan menambah masa   manfaat penyusutan untuk aset tetap pada tahun 2002
7. Parmalat Total hutang perusahaan lebih dua kali lipat yang   tercatat di neraca. Pemalsuan dan kebangkrutan adalah tuduhan lainnya.
8. Health South Corporation Pendapatan perusahaan overstated sebanyak 4700 persen dan $14 miliar dilambungkan untuk   memenuhi harapan investor.
9. American International Group (AIG) Perusahaan mempertahankan perjanjian payoff   menguntungkan. Melakukan permohonan penawaran kecurangan untuk kontrak   asuransi dan melambungkan posisi keuangan sebesar $2,7 M pada tahun 2005
10. Satyam Computer Services Melambungkan saldo kas dan bank lebih dari $1 miliar,   posisi debitor yang overstated sebesar 100 miliar dan kewajiban understated   sebesar $250 juta yang diatur untuk kepentingan Ramalinga Raju (Pendiri   Satyam Computer Services)

Sumber: http://bizcovering.com/history/10-major-accounting-scandals/

Kasus tersebut juga pernah melanda di Indonesia, misal kasus PT. Kimia Farma dan PT. Lippo Bank. Manajemen PT Kimia Farma menggelembunggkan laba bersih pada laporan keuangan senilai 32,6 milyar (seharusnya 99,6 milyar ditulis 132 milyar) yang berakibat pada kerugian yang dialami oleh Bapepam dan para investor. Ketika dilaporkan laba harga saham bagus, ketika kesalahan diumumkan harga saham menurun tajam. Sedangkan manajemen PT. Lippo Bank melaporkan keuangan ke publik denggan aset 24 triliun dan laba bersih 98 milyar, tetapi ke BEJ dilaporkan aset 22,8 triliun dengan rugi bersih 1,3 triliun. Akibatnya dana rekap pemerintah milik masyarakat susut dari 6 triliun menjadi 600 milyar demikian pula dengan investor lainnya (Sulistyanto, 2008).

Selain independensi, persyaratan-persyaratan lain yang harus dimiliki oleh seorang auditor seperti dinyatakan dalam Pernyataan Standar Auditing (SPAP, 2001) adalah keahlian dan  due professional care. Namun seringkali definisi keahlian dalam bidang auditing diukur dengan pengalaman (Mayangsari, 2003). Penting bagi auditor untuk mengimplementasikan  due professional care  dalam pekerjaan auditnya. Hal ini dikarenakan  standard of care  untuk auditor berpindah target yaitu menjadi berdasarkan kekerasan konsekuensi dari kegagalan audit. Kualitas audit yang tinggi tidak menjamin dapat melindungi auditor dari kewajiban hukum saat konsekuensi dari kegagalan audit adalah keras (Kadous, 2000).

Due profesional care memiliki arti kemahiran profesional yang cermat dan seksama. Menurut PSA No. 4 SPAP (2001) kecermatan dan keseksamaan dalam melaksanakan pekerjaan audit  bertujuan agar tercapai pelayanan yang profesional. Kecakapan (due care) mengharapkan anggota melaksanakan tanggung jawab profesional dengan kecakapan dan ketekunan. Hal ini memperlihatkan suatu kewajiban dalam pengadaan dan pelayanan yang profesional untuk mendapatkan kemampuan anggota yang memperhatikan kepentingan utama dari setiap pelayanan/jasa yang diadakan dan kosisten dengan tanggung jawab profesi bagi masyarakat.

Etika dalam auditing adalah suatu prinsip untuk melakukan proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi untuk menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan kriteria-kriteria yang dimaksud yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen (Mulyadi, 2002). Pada dasarnya etika profesi sangat diperlukan oleh setiap profesi, khususnya bagi profesi yang terkait dengan kepercayaan yang diperoleh dari masyarakat, seperti  profesi akuntan publik. Masyarakat cenderung akan menghargai profesi yang menerapkan standar mutu yang tinggi dalam pelaksanaan pekerjaannya. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu audit akan menjadi lebih tinggi jika profesi akuntan publik menerapkan standar mutu yang tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan audit yang dilakukan oleh anggota profesi tersebut (Mulyadi, 2002).

Beragam skandal akuntansi yang telah terjadi seperti kasus Enron Corp. yang cukup fenomenal atau kasus PT. Kimia Farma yang terjadi di Indonesia juga melibatkan etika yang dimilki oleh akuntan publik. Hal ini berarti akuntan publik tersebut tidak menerapkan standar mutu yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya. Soedarjono yang merupakan mantan orang nomor satu di BPKP mengungkapkan bahwa hasil audit akuntan publik terhadap perbankan yang sebelumnya tidak ditemukan apa-apa, tapi setelah masuk akuntan asing untuk memeriksa, ditemukan segudang masalah (Media Akuntansi no. 1/Thn.1/1999). Dari pernyataan Soedarjono tersebut nampak jelas bahwa ketika akuntan asing yang melakukan audit justru ditemukan berbagai masalah. Menteri keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani mengatakan bahwa pada saat ini banyak sekali perusahaan yang mengeluarkan laporan keuangan ganda (dubble bookeping) dan akuntan publik yang memeriksa laporan keuangan ganda tersebut telah ikut melakukan kecurangan (Tempo, Desember 2006).

Pada umumnya orang akan beranggapan bahwa semakin banyak pengalaman yang dimiliki akuntan publik maka pertimbangan yang diberikan akan lebih baik daripada seorang akuntan publik  yang baru memulai karirnya. Pengalaman akuntan publik dapat membentuk kepribadian baik secara teknis maupun non-teknis.

Knoers dan Haditono (1999) mengatakan bahwa pengalaman kerja merupakan suatu proses pembelajaran dan penambahan perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal maupun non formal atau bisa juga diartikan sebagai suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi.

Pengalaman kerja telah dipandang sebagai suatu faktor penting dalam memprediksi kinerja kuntan publik, dalam hal ini adalah kualitas auditnya. Seorang auditor harus secara terus- menerus mengikuti  perkembangan yang terjadi dalam bisnis dan profesinya. Seorang auditor harus mempelajari,  memahami dan menerapkan ketentuan-ketentuan baru dalam prinsip akuntansi dan standar auditing yang diterapkan oleh organisasi profesi. Dengan bertambahnya pengalaman seorang auditor maka keahlian yang dimiliki auditor juga semakin berkembang (Badjuri, 2011).

Auditor yang lebih berpengalaman  akan lebih cepat tanggap dalam mendeteksi kekeliruan yang terjadi. Bertambahnya pengalaman kerja auditor juga akan meingkatkan ketelitian dalam melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan yang dilakukan dengan tingkat ketelitian yang tinggi akan menghasilkan laporan audit yang berkualitas. Pengalaman profesional auditor dapat diperoleh dari pelatihan-pelatihan, supervisi-supervisi maupun review terhadap hasil pekerjaannya yang diberikan oleh auditor yang lebih berpengalaman. Pengalaman kerja seorang auditor akan menukung keterampilan dan kecepatan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya sehingga tingkat kesalahan akan semakin berkurang (Putri dan Bandi, 2002).

Auditor dengan kemampuan profesionalisme yang tinggi akan melaksanakan audit secara benar dan cenderung menyelesaikan setiap tahapan-tahapan proses audit secara lengkap dan mempertahankan sikap skeptisme dalam mempertimbangkan bukti-bukti audit yang kurang memadai yang ditemukan selama proses audit untuk memastikan agar kualitas audit yang baik (Ardhini, 2010). Kualitas audit yang baik dapat dicapai jika auditor dapat menyelaikan pekerjaan secara profesional. Karena kualitas audit yang baik merupakan hasil dari sikap profesionalisme yang tinggi, sehingga laporan keuangan yang dihasilkan oleh klien dapat terpercaya sebagai dasar pengambilan keputusan. Singgih dan Icuk (2010) mengungkapkan bahwa kualitas audit dipengaruhi oleh independensi dan  pengalaman. Sedangkan kualitas audit menurut Christiawan (2002) ditentukan oleh kompetensi dan independensi yang dimiliki oleh auditor.

Fenomena menurunnya kualitas audit telah muncul pada beberapa tahun terakhir. Pada beberapa kasus, auditor tidak dapat menemukan kecurangan dalam laporan keuangan atau kecurangan tersebut ditemukan oleh auditor namaun tidak diungkapkan, misal kasus PT. KAI, PT. Kimia Farma, dan KSO PT. Telkom. Padahal auditor sebagai profesi yang independen mempunyai tanggung jawab dalam mengungkapkan kecurangan atau pelanggaran pada laporan keuangan (Castellani, 2008). Kasus yang  cukup menarik adalah kasus audit PT. Telkom yang melibatkan KAP ”Eddy Pianto & Rekan”, dalam kasus ini laporan keuangan auditan PT. Telkom tidak diakui oleh SEC (pemegang otoritas pasar modal di Amerika Serikat). Peristiwa ini mengharuskan dilakukannya audit ulang terhadap PT. Telkom oleh KAP yang lain (Winarto, 2002).